Tampilkan postingan dengan label PETUALANGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PETUALANGAN. Tampilkan semua postingan

HAL POSITIF DALAM PETUALANGAN ALAM BEBAS

Diposting oleh Unknown on Jumat, 30 Agustus 2013

HAL POSITIF DALAM PETUALANGAN ALAM BEBAS


HAL POSITIF DALAM PETUALANGAN ALAM BEBAS

Kapten Haddock, tokoh dalam serial Tintin pernah menggerutu tentang orang yang gemar naik gunung “Buat apa naik gunung kalau nanti harus turun juga,” begitu omelnya tidak mengerti. Bagi orang awam kegiatan naik turun gunung, mengarungi jeram, menelusuri lorong gelap abadi, dan memanjat tebing memang dipandang kegiatan yang sia-sia. Apalagi seringkali nyawa sebagai taruhannya, tak heran kalau omelan Kapten Haddock terasa mewakili pandangan awam.

Kendati begitu, kegiatan petualangan di alam bebas justru semakin berkibar di persada tercinta ini. Sebut saja ekspedisi sevent summit, ekspedisi Leuser, ekspedisi Memberamo dan masih banyak lagi. Bahkan peminat aktivitas yang sepi tepuk tangan penonton ini semakin menjamur di Nusantara.

Lantas, apa sih yang mendorong para petualang mengeluti dunianya, hingga mereka cuek saja terhadap pandangan awam ? Sebenarnya para petualangan itu pada awalnya berangkat dari rasa iseng belaka, ikut-ikutan dan sekedar pemuas rasa ingin tahu mereka. Namun apa pun awal perkenalan dengan dunia petualangan, yang jelas mereka langsung ketagihan dengan dunia itu. Seolah-olah alam bebas bagai magnit yang terus menarik-narik mereka untuk kembali berpetualang kembali.

Biarpun kita mendaki gunung yang sama, pengalaman yang kita peroleh selalu berbeda. Artinya para petualang selalu mencari hal baru / tantangan baru dan bagaimana cara mengatasi tantangan itulah yang menyebabkan mereka selalu kembali ke alam bebas. Selain itu, tentu saja pemandangan indah yang ditawarkan alam bebas berperan besar dalam membujuk para petualang untuk turun kembali ke alam bebas.

Pada mulanya mereka memang mendapat kepuasan setelah menjawab tantangan dan menikmati panorama indah yang disodorkan alam bebas. Tetapi dari pengalaman naik turun gunung itu, pelan-pelan mereka mendapat sesuatu yang lebih. Bukan lagi sekedar kepuasan mencapai puncak ketinggian. Sifat-sifat positif secara perlahan akan terbentuk, sifat-sifat yang memang diperlukan pada saat-saat bertualang maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Sifat-sifat tersebut misalnya, berani mengambil keputusan. Di dalam situasi yang kritis, kita dituntut untuk secepat mungkin mengambil keputusan dengan bijak dan kepala dingin. Dan yang pasti keputusan tersebut tidak akan membahayakan keseluruhan tim, apalagi pada saat tersebut kita bertindak sebagai ketua rombongan.

Perselisihan bukanlah barang asing dalam dunia petualangan. Yang muncul akibat kondisi mental dan phisik yang sudah letih, sehingga kita mudah sekali tersinggung. Tapi karena kondisi alam bebas yang menuntut kerjasama, para petualang tidak bisa mengumbar emosinya begitu saja. Sediki demi sedikit emosi pun dapat dikendalikan, sehingga tidak tertutup kemungkinan perselisihan terlupakan.

Dengan naik gunung pun kita berlatih memotivasi diri. Karena di gunung yang menjadi penghalang utama adalah si pendaki itu sendiri. Capek-lah, dingin-lah, masih jauh-lah hingga mereka tidak mau melanjutkan perjalanannya. Kalau saja mereka bisa mengalahkan perasaan itu dalam kehidupan sehari-hari, ini bisa sangat berguna pada saat kita menghadapi masalah pelik.

Begitu juga dengan sifat cermat membuat perhitungan dan tidak mudah mengeluh. Kondisi alam bebas yang sulit diduga menuntut persiapan dan perhitungan yang matang, kalaupun ada yang meleset harus kita hadapi dengan pikiran dingin dan lapang dada tanpa saling menyalahkan. Di tengah hutan kita akan mengeluh kepada siapa, toh yang kita keluhi pun dalam kondisi yang sama, malah-malah keluhan kita bisa mengendorkan mentalitas rekan lainnya.

Dalam melakukan aktivitas ini kita dituntut untuk selalu jujur, misal suatu ketika kita melakukan pendakian seorang diri dan tidak mencapai puncak. Bisa saja kita bilang sampai dipuncak, toh tak ada saksi yang akan menyanggahnya, disinilah kita harus jujur, karena pengalaman yang terjadi mungkin berguna bagi teman-teman yang lain. Bila kita sudah mencapai tahap ini, puncak bukan lagi menjadi sasaran utama. Begitu pula dengan kebanggaan yang dulu sampai-sampai bisa menyesakkan dada karena berhasil menaklukkan sebuah puncak, perlahan akan hilang. Karena yang lebih esensi dalam tahap ini adalah bagaimana kita mendapatkan tantangan baru dan bagaimana memecahkannya.

Juga mengurangi nafsu merusak seperti corat-coret, memetik edellweis dan membuang sampah sembarangan sudah lama mereka tinggalkan. Karena motto “ Jangan ambil sesuatu kecuali photo dan jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak “ sudah melekat pada diri mereka. Tetapi semua ini adalah proses yang harus dilalui oleh semua orang untuk menjadi pecinta alam sejati.

Untuk menjadi seorang petualang yang baik kita harus mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang cukup, peralatan dan perbekalan yang memadai, mental dan phisik yang baik serta daya juang yang tinggi. Tanpa itu jangan harap kita bisa selamat dalam melaksanakan aktivitas petualangan, sedangkan mereka yang telah cukup memiliki segala sesuatunya pun terkadang tidak luput dari resiko berat aktivitas out door sport ini.

Semua aktivitas yang dilakukan manusia mempunyai resiko, begitu pula dengan aktivitas petualangan di alam bebas. Ibaratkan seorang pelaut yang harus meninggalkan keluarganya berbulan-bulan, itu adalah resiko dari profesi keahlian yang digelutinya.

Kaum awam seringkali mengidentifikasikan kegiatan out door sport sebagai aktivitas yang dekat dengan kematian, padahal para petualang sebetulnya adalah orang-orang yang menghargai kehidupan, hal ini terlihat bagaimana mereka menerapkan safety procedure dalam setiap aktivitasnya. Kalau bicara soal kematian, di atas tempat tidur pun apabila Allah menghendaki, kita semua bisa mati atau bisa kita lihat bagaimana banyaknya orang mati karena kecelakaan lalulintas. Jadi tidak perlu takut melakukan aktivitas petualangan di alam bebas.

semoga bermanfaat..

sumber :  Ksatria Bersepeda 
More aboutHAL POSITIF DALAM PETUALANGAN ALAM BEBAS

Radikalisme Pendaki (pilihan atau impian?)

Diposting oleh Unknown

Radikalisme Pendaki (pilihan atau impian?)
oleh: jenggot
untuk: umum & netters

Radikalisme Pendaki (pilihan atau impian?)

Para penggiat petualangan (pendakian gunung) ini paling tidak saya klasifikasikan kedalam dua “style” (tesis pribadi saja sih). Pertama adalah pendaki sebagai seorang “sportman” dan pendaki non sport (hoby, obsesi, publisitas, doktrin, dll). Saya pikir “style” adalah pilihan dan konsekwensinya pastilah berjalan linear dengan pilihan yang kita ambil.

Seorang pendaki dengan jenis kelamin “Sportman” pastilah melakukan pendakiannya dengan sangat terukur dengan kalkulasi yang sudah matang. Sehingga jikapun terjadi musibah dalam pendakiannya, akan dievaluasi dari sisi teknis, statistik dan probabilitas.
Lain halnya dengan pendaki dengan jenis kelamin “non Sport”, kelompok ini jumlahnya mayoritas dan tidak hanya di Indonesia. Pendaki jenis ini biasanya melakukan pendakian/ekspedisi dengan motivasi yang bermacam2 dan cenderung subjektif (publisitas, ambisi, doktrin, dll) sehingga yang sering terjadi adalah melanggar norma2 yang baku, lalu ketika terjadi musibah maka dianggap sebagai takdir Tuhan semata.

Jika uraian saya masih bias, saya akan coba dengan pendekatan kasuistik dua pendaki legendaris yang masih hidup sampai sekarang yaitu Charles Houston (US) dan Reinhold Messner (Italy). Dalam hal ini saya anggap Houston adalah representasi dari pendaki Sportman, dan Messner saya anggap sebagai jenis yang kedua.

Karena bergaya “Sportman”, Houston melakukan prepare pendakian (K2-1938) nya dengan sangat matang. Tetapi ketika dia mendapati kenyataan bahwa puncak tidak mungkin dicapai saat itu (1938) dengan perhitungan teknisnya, ia pun turun kembali. Lima belas tahun kemudian setelah dirasa mental, skill teknik dan teknologi pendakian dirasa mumpuni barulah dia kembali ke K2 pada tahun 1953 dan mencobanya kembali. Karena alasan keamanan dan peraturan daerah (Perda) di pakistan, maka sherpa2 akhirnya hanya bisa membantu sampai Camp II dan setelah itu pendakian dilakukan dengan “alpine style” (tradisional). Karena tidak ada “high-altitude porters” maka team harus memiliki fisik dan mental yang prima. Singkat cerita “Third American Expedition” ini pun kandas di leher gunung karena cuaca buruk. Houston sempat mengkalkulasikan “probability summit attempt” selama beberapa hari dalam suasana terjebak badai di Camp VIII dan akhirnya karena faktor fisik team yang tidak memenuhi syarat akhirnya Houston sebagai leader pun memutuskan turun.

Kini, keputusan sulitnya 56 tahun yang lalu itu diyakini adalah keputusan paling fantastis (mengorbankan ego, nafsu dan ambisi mahluk manusia) untuk mencapai puncak tapi harus dibatalkan karena kalkulasi teknis dan “probability summit attempt” yang tidak memungkinkan untuk mencapai puncak!!!!. Sejarah mencatat dengan tinta emas hingga saat ini bahwa seorang Sportman tidak akan mengorbankan nyawanya, hanya untuk sekedar sampai di puncak gunung. Dan pastinya rekan2 semua sudah tau dengan kalimat emas dunia pendakian tentang “kebersamaan” ("we entered the mountain as strangers, but we left it as brothers") yang saat ini diakui di dunia, ya karena “prestasi” Houston dalam Third American Expedition tahun 1953 itu.

Nah, selanjutnya adalah Reinhold Messner. Saya setuju dengan menganalogikan messner sebagai radikal, extrem dan revolusioner. Tetapi pencapaian messner saya pikir adalah sebagai pembuktian ambisi, ego, nafsu pribadi untuk memberitahu dunia bahwa “lazy climber” dengan logistik dan sherpa yang banyak ditambah tabung oksigen yang berat adalah sebuah hal yang tidak efisien. Sisi subjektif ini diakui secara umum di dunia pendakian dan semua pendaki tahu bahwa apa yang dilakukan messner bukan untuk dilampaui, tetapi sebagai bagian dari “item teknik” untuk alternatif yang sewaktu2 dapat dilakukan (jika keadaan memaksa).

Jadi messner saya pikir adalah pendaki dengan motivasi yang tidak sebagai “Sportman” tetapi lebih kepada pencapaian ambisi pribadi. Dan saya pikir sejarah tidak akan mencatat messner-messner baru dikemudian hari karena apa yang dilakukannya bukanlah untuk dilampaui. Cukuplah menjadi seven summiters saja prestasi tertinggi pendaki saat ini. Jika pendaki2 masa kini berlomba2 untuk melampaui prestasi "eight-thousander" nya messner, saya kira regenerasi pendaki akan sulit dilakukan karena pendaki2 senior yang ada kemungkinan besar habis menjadi korban ambisi abadi umat manusia. Cukup Jerzy Kukuczka saja yang menjadi tumbal perlombaan egoisme dan nafsu eight-thousander.

Pemerintah nepal, china, pakistan dan Indonesiapun pastinya akan mengeluarkan regulasi pendakian yang ketat jika “trend” alpine style ini bertambah banyak, karena ukuran pendaki yang layak untuk melakukan pendakian dengan gaya alpine style inipun masih bias dan tidak baku dengan resiko kematian yang cukup tinggi. Dan jangan lupa sisi psikologis messner dengan “alpine style” nya pun tidak lepas dari tragedi “Diamir Face” di Nanga Parbat 1970, bukan? Mungkin jika “first alpine style” nya di Nanga Parbat berlangsung sukses (naik dan turun dengan jalur yang sama) dan tidak kehilangan Ghunter, saya kira messner tidak akan sehebat sekarang.

Nah, bagaimana dengan pendaki Indonesia?
Saya kira kita bisa mengeneralisir masalah ini ke Indonesia. Saat ini hanya sedikit pendaki yg menganut mazhab “Sportman” sebagai acuan dalam aktivitas pendakiannya. Untunglah gunung2 di Indonesia rata2 adalah jenis gunung daerah tropis, sehingga tidak dibutuhkan skill yang tinggi untuk mencapai kebanyakan puncaknya.

Pendaki Indonesia secara umum masih dalam pola pikir menaklukan puncak2 yang ada. Atau bahasa awamnya puncak 3000an sebagai salah satu ambisi khas Indonesianis. Mencapai puncak adalah prestasi!!! Itulah “krusial point” nya. Banyak yang tidak tau 76% tragedi pendakian adalah ketika turun dari puncak. Tragisnya lebih banyak lagi yang tidak mau tau, dan baru tau setelah terjebak dalam suasana “point of no return” disaat semua keputusan apapun yang dibuat adalah bencana.

Sederhananya adalah sangat sedikit pendaki kita yang mau belajar Manajemen Resiko dalam pendakian. “Failure of Risk Management” dianggap hanyalah milik gunung2 8000an dan tidak mungkin terjadi di Indonesia. Lalu kebanyakan langsung terjun ke lapangan dengan keyakinan bahwa kegiatannya itu pastilah selamat dan tidak akan terjadi musibah. Oleh karena itu saran saya sih, kenali kemampuan kita, share dengan rekan2 sehoby, adakan trial perjalanan, pematangan teknik (knowledge) & mental, setelah semuanya matang dan stabil barulah...push u'r limit (Jenggot, 2009).

Salam.
 sumber : jenggot
More aboutRadikalisme Pendaki (pilihan atau impian?)

PESONA INDAH KAWAH IJEN

Diposting oleh Unknown on Rabu, 31 Juli 2013

PESONA INDAHNYA KAWAH IJEN


PESONA INDAHNYA KAWAH IJEN



Gunung Ijen atau lebih di kenal dengan Kawah Ijen, adalah salah satu gunung yang masih aktif sampai sekarang. Memiliki ketinggian 2.443 m dari atas permukaan laut, berdinding kaldera setinggi 300-500 m dan telah 4 kali meletus di tahun 1796, 1817, 1913 dan 1936.

Ijen merupakan satu komplek gunung berapi yang terdiri dari kawah gunung Ijen dan dataran tingginya. Kawasan ini terletak di tiga kabupaten yaitu Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi.

Di kawasan gunung berapi ini terdapat pertambangan belerang, dimana mengindikasikan gunung ini masih aktif dan beraktifitas. Saat berada di kawasan kawah Ijen, pengunjung bisa menyaksikan para penambang yang sibuk membawa tumpukan belerang di punggung mereka, menyusuri jalan yang curam dan dipenuhi oleh gas beracun yang berbahaya.

Kawah Ijen merupakan pusat danau kawah terbesar di dunia, yang bisa memproduksi 36 juta meter kubik belerang dan hidrogen klorida dengan luas sekitar 5.466 hektar.. Kawah yang berbahaya ini memiliki keindahan yang sangat luar biasa dengan danau belerang berwarna hijau toska dengan sentuhan dramatis dan elok. Danau Ijen memiliki derajat keasaman nol dan memiliki kedalaman 200 meter. Keasamannya yang sangat kuat dapat melarutkan pakaian dan jari manusia.

                            PESONA INDAH KAWAH IJEN

Bagi mereka yang suka akan petualangan, untuk mencapai Gunung Ijen bisa di akses dari dua arah yaitu, dari utara dan dari selatan. Dari utara, bisa di tempuh melalui Situbondo menuju Sempol (Bondowoso) lewat Wonosari dan dilajutkan ke Paltuding. Jaral Situbondo ke Paltuding sekitar 93 Km dan dapat ditemput sekitar 2,5 jam.

Dari arah selatan, bisa dilalui dari Banyuwangi menuju Licin yang berjarak 15 Km. Dari Licin menuju Paltuding berjarak 18 Km dan diteruskan menggunakan Jeep atau mobil berat lainnya sekitar 6 Km sebelum ke Paltuding. Ini dikarenakan jalan yang berkelok dan menanjak.
More aboutPESONA INDAH KAWAH IJEN